Titik Pahit Kenangan Pujangga
Kenangan yang kita tanam di dasar, kenangan yang tak akan pernah kita bagi pada siapapun.
Setitik kenangan itu perlahan membesar dan melebar. Menjadi terang dan jelas seperti ketika kau membuka mata dari tidurmu. Hanya saja yang kau lihat bukanlah sebuah kenyataan setidaknya kenyataan saat kini. Kenangan yang itu menjelma menjadi sebuah nostalgia.
Menjelajahi kenanganku sendiri bagaikan membuka lembaran buku yang sudah uzur. Semakin aku membukanya dengan kasar, lembaran itu semakin rapuh dan hancur. Tapi apa daya, aku terlalu bersemangat untuk mengingat kali pertama kita bertemu.
Kau datang bagaikan kepakan sayap kupu-kupu. Tak ada rasa, tak ada hentakan,Aku bahkan sama sekali tak memberikan sedikitpun perhatian padamu. Namun layaknya kepakan sayap kupu-kupu, kamu malah membuatku terjebak dalam kepompong, lama setelah kedatanganmu.
Aku selalu menghubungkanmu dengan sebuah rasa. Rasa hangat yang ku dapat ketika badanku bermandikan sinar matahari, namun aku sedang berada di dalam ruangan dengan penyejuk udara. Rasa hangat namun dingin yang begitu aku candui.
Berbagai pertanyaan selalu memenuhi benakku, dan semuanya berawal dari satu kata yaitu ‘jika’.
Bagaimana jika kamu lebih dulu bertemu dengan orang lain?
Bagaimana jika aku tidak berada disampingmu?
Bagaimana jika aku membawa kendaraanku sendiri, dan tidak mengantarmu lagi?
Bagaimana jika aku tidak menunggumu di bawah hujan, berharap kamu akan datang bagaikan atap di bawah kelabu?
Alam semesta selalu punya caranya sendiri untuk berjalan. Sedangkan kita hanya bisa mengikuti jalannya alam semesta. Konspirasi picisan yang membuat aku terjebak bersamamu, menjalin sebuah benang yang tebal namun rapuh.
Kenangan yang membuat kita satu. Hanya kenangan lah yang membuat kita satu selebihnya bagaikan air dan minyak bersama tapi tak pernah menyatu.

menyayat hati sungguh
BalasHapusLayaknya seorang pujangga
BalasHapusKeren kang tulisanya
BalasHapus